Kritik dan Esai

 KRITIK PUISI

Ketabahan “Hujan Bulan Juni”




Hujan Bulan Juni

Karya: Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

 

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

 

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu


Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 adalah seorang pujangga berkebangsaaan Indonesia yang terkemuka. Ia dikenal melalui berbagai puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum. Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya pada menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (Sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam."

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisinya ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudjamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa  karya Sapardi Djoko Damono.

Sebelum memulai pada puisi “Hujan Bulan Juni”, alangkah lebih baik kita ketahui terlebih dahulu makna cinta. Cinta adalah kumpulan hasrat manusia berupa perasaan kasih sayang. Sebab ia berdasar pada hasrat, cinta kepada kekasih biasanya dimotori oleh eros atau gairah yang badaniah.

Cinta karena ia begitu primordial dalam diri manusia, selalu diekspresikan dalam beragam bentuk. Penyair adalah orang yang mengekspresikan cinta dalam kata-kata, mengabadikannya dalam lautan makna. Begitu pula hal yang dilakukan Sapardi Djoko Damono. Dalam puisi Sapardi, ia senang menggunakan benda-benda alami sebagai wujud perwakilan cintanya. Puisi “Hujan Bulan Juni” menjadi salah satu buktinya.

Salah satu kekuatan mengapa puisi “Hujan Bulan Juni” ini sangat legendaris adalah karena penciptanya yaitu Pak Sapardi. Citra Pak Sapardi mampu terwujud dalam setiap hasil karya puisinya. Pak Sapardi merupakan sosok yang sangat sederhana dalam hidupnya, hal itu juga ia terapkan di setiap karya puisinya. Ia menggunakan kata-kata sederhana, namun dengan demikian itu seketika para pembaca dapat terhipnotis oleh pilihan katanya.

Selain sosoknya yang sederhana, Pak Sapardi juga merupakan sosok penyair yang sangat romantik. Puisi “Hujan Bulan Juni” ini merupakan buktinya dan menjadi kekuatan tersendiri dari puisi ini. Dengan ketabahan sosok aku yang disimbolkan oleh hujan ia merelakan sosok perempuan yang disimbolkan oleh pohon berbunga dan ini dianggap sebagai perbuatan yang “bijak” dan “arif.” Kurang lebih inilah definisi “cinta tak harus memiliki.”

Dengan demikian, penggambaran alam yang begitu kuat dalam puisi ini juga menjadi salah satu kekuatan. Hujan yang dijadikan subjek menggantikan posisi aku, memiliki makna yang maskulin sehingga ia mewakili jenis kelamin laki-laki.

Penggambaran alam lainnya yang cukup kuat pada puisi “Hujan Bulan Juni,” yaitu penggambaran tentang ketabahan. Hal itu ditunjukkan pada sajak “dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu” si aku (hujan) merahasiakan rindu kepada si perempuan yang digambarkan oleh pohon berbunga.

Selain keperluan fungsi estetis, Sapardi mengganti sosok subjek dengan benda-benda alam juga karena keperluan semiotis. Benda-benda alam tersebut diberi majas metafor, yang seolah benda itu hidup, berpikir, dan berperasaan. Penggunaan simbol inilah membuat puisi Sapardi semakin indah.

Mengapa harus bulan juni? Mengapa tidak bulan februari atau bulan lainnya?

Pasti pertanyaan ini muncul saat kita selesai membaca puisi singkat ini. Sapardi menulis puisi Hujan Bulan Juni berdasarkan pengalaman yang tak muluk-muluk. Saat berada di Yogya dan Solo pada masa mudanya, ia selalu menjalani Juni yang kemarau kering dengan malam-malamnya yang dingin menusuk tulang. Juni-Juli adalah masa libur buat mahasiswa dan hujan tak pernah diingatnya mampir ke bulan-bulan tersebut. Hujan yang turun "salah jadwal" di bulan Juni itu kemudian memantik sulur-sulur serebrum Sapardi untuk menuliskan puisi Hujan Bulan Juni. Kala itu, bagi Sapardi (dan bentangan imajinasinya), hujan salah jadwal tersebut janggal dan jadi masalah. Kenapa hujan mesti repot-repot datang di bulan Juni yang merupakan puncak kemarau? Jadi alasan sederhananya adalah ketika Pak Sapardi membuat karya ini di tahun 1989, hujan tidak pernah jatuh di bulan Juni. Jadi, tidak perlu diragukan penggambaran alam di puisi ini, sangat terasa kuat.

Berdasarkan pembedahan makna di atas, puisi “Hujan Bulan Juni” mengisahkan seorang lelaki yang mencintai seorang perempuan, tetapi tidak mampu untuk menyampaikannya, sehingga ia lebih memilih untuk menghapuskan keraguan cintanya.

Ketabahan merelakan cinta terhadap orang yang dicintai ini dianggap perbuatan yang “paling bijak” dan “paling arif”. Sajak ini seolah memberitahu tentang cara mencintai yang aduhai, sekaligus berkhotbah hakikat cinta Platonik, yakni perasaan kasih sayang yang tulus dan tidak harus memiliki.

Setelah menelusuri makna di setiap larik puisi tersebut, saya menelaah analisis dari segi unsur-unsur intrinsik dari puisi “Hujan Bulan Juni”. Diantaranya ada tema, tipogragi, perasaan penyair, nada, irama, majas dan gaya bahasa serta amanat yang terkandung dalam puisi tersebut.

Tema puisi "Hujan Bulan Juni" ialah mengisahkan mengenai cinta terpendam yang tidak tersampaikan. Cinta yang lebih memilih bersemayam dalam lubuk si pemilik perasaan. Orang itu ragu untuk mengutarakan perasaannya. Meskipun cintanya tidak tersampaikan, si pemilik (hujan), tetap tabah, arif, dan bijaksana seperti pada bait sebagai berikut:

Bait pertama:

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni

Bait kedua:

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni

Bait ketiga:

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan juni

Tipografi puisi “Hujan Bulan Juni” ialah disusun rata kiri dengan huruf kecil di setiap awal lariknya. Terdiri dari 3 bait dan di setiap bait terdiri dari 4 baris. Tipografi dalam penulisan puisi “Hujan Bulan Juni” di buku antologi Hujan Bulan Juni terkesan manis dan sederhana.

Perasaan penyair yang tampak dalam puisi "Hujan Bulan Juni" adalah perasaan orang yang tabah atau sabar meskipun memendam perasaan cinta. Kesabaran tersebut tampak pada penggunaan kata tabah, arif, dan bijak. Si pemilik juga ragu mengungkapkan perasaannya hingga ia menghapus jejak-jejaknya yang tertera pada larik puisi.

Nada puisi "Hujan Bulan Juni" seperti berirama kegetiran. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan huruf /r/ yang berulang-ulang dalam puisi. Pilihan kata yang digunakan juga menunjukkan bahwa penyair mengalami keraguan. Hingga akhirnya memilih diam saja dan mencintai dalam diam.

Irama puisi “Hujan Bulan Juni” terdapat pengulangan frasa tak ada yang lebih dan hujan bulan juni. Pengulangan ini sangat memengaruhi irama secara keseluruhan. Ketika seseorang membacakan puisi ini untuk banyak orang, keberadaan repetisi frasa dan diksi bisa diberi intonasi berbeda-beda oleh orang yang menyimaknya sehingga bisa mencapai klimaks untuk para pendengar.

Terdapat dua majas dalam puisi “Hujan Bulan Juni”, yakni majas personifikasi dan majas repetisi. Majas personifikasi adalah majas yang seakan-akan benda mati itu sanggup atau mampu bersifat dan bertindak layaknya manusia. Ini tampak pada larik tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Ini seakan-akan hujan tersebut bisa memiliki sifat tabah layaknya manusia. Atau juga dalam larik tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni, dihapusmya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu. Hujan di sana seakan-akan bisa memiliki sifat bijak dan si hujan juga memiliki kaki. Selanjutnya juga dalam larik tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Di sini seakan-akan hujan bisa merahasiakan sesuatu seperti sifat manusia.

Selain majas personifikasi, juga ada majas repetisi. Majas repetisi ialah bersifat pengulangan kata atau frasa dalam karya sastra untuk menegaskan suatu makna dalam puisi tersebut. Pengulangan dalam puisi juga bertujuan untuk menciptakan ritme dalam puisi. Majas repetisi terkandung dalam larik tak ada yang lebih … dari hujan bulan juni. Ini diulang tiap awal bait dalam puisi “Hujan Bulan Juni”.

Amanat yang bisa dipetik dalam puisi "Hujan Bulan Juni" ialah sebisa mungkin untuk selalu sabar, bijak, dan tabah dalam menjalani sesuatu. Karena tidak semua hal selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, lalu, menyampaikan perasaan kepada seseorang yang kita cintai tidak selamanya menjadi buruk. Mencintai pada dasarnya ialah ikhlas dan tulus untuk menyayangi seseorang. Tidak minta timbal balik dan balasan adalah definisi mencintai yang paling tinggi. Namun, lebih baik mengutarakan perasaan kepada seseorang yang kita cinta, daripada menyesal tiada guna.

Hal yang membuat Hujan Bulan Juni menjadi lebih menarik adalah diksi yang digunakan dalam puisi tersebut menggunakan bahasa yang lembut, indah, dan sederhana. Hal ini membuat orang-orang awam pun mampu menikmati puisi beliau, bukan hanya para sastrawan saja. Hasil karyanya dapat dinikmati lintas generasi, karena bahasanya yang ringan tapi menyentuh hati. 


ESAI

HITAM DI ATAS PUTIH

Berikrar bukan lagi suatu hal agung yang harus ditaati. Kita hidup dimana bernapaspun dijadikan ladang bisnis dan kita berdiri di tengah pendosa yang semena-mena menerapkan aturan. Mereka yang membuat sekaligus melanggar. Lantas dimana letak keadilan itu bisa ditegakkan? dengan cara apa? jika sumpah saja tidak bernilai.

Bagaimana bisa hukum ditegakkan bila keadaan politik masih berantakan?

Seandainya Indonesia belum merdeka, apa sempat seorang bupati memperjualbelikan jabatan? Apa mungkin masih terlintas dalam benak walikota untuk memakan uang rakyat? Apa masih ada rasa tamak seorang gubernur meginginkan jabatannya turun-temurun hingga ke anak cucu? Apa pantas dengan Indonesia yang merdeka rakyat masih menjadi tulang punggung para penguasa? Tidak.

Sejak dilahirkan ke dunia setiap insan dalam keadaan suci, hati dan pikirannya bersih. Tapi jiwa tiap insan tumbuh tanpa kendali, menciptakan warna baru di peradaban manusia. Ada yang tumbuh di lingkungan yang indah, sebagian lagi muram. Kita tidak bisa menebak, tidak bisa menyalahkan, juga tidak bisa mengatur, akan tumbuh di lingkungan seperti apa aku, kamu, dia, mereka dan siapapun itu.

Sekarang, mata dan hati mulai terbuka. Tidak bisa kita berkaca pada hati nurani bahwa setiap manusia itu suci. Nyatanya kehidupan di depan mata kita sekarang, dikotori oleh orang-orang yang merasa paling suci, paling berkuasa, paling mempunyai ambisi, paling segalanya. Kehidupan kita sudah dipermainkan oleh arus politik yang menjebak di tengah negara yang katanya negara hukum.

Kita bicara hal besar namun sejatinya kita melihat peristiwa kecil. Korupsi, penyalahguaan kekuasaan, tidur saat rapat, bermuka dua saat akan pemilu, berbisnis dengan rakyat dan masih banyak lagi yang tidak mesti disebutkan karena hanya akan menguras emosi. Saya bilang ini hal kecil, bukan lagi hal yang tabu di negeri ini. Tapi pemikiran dan ucapan yang kita keluarkan merupakan hal besar, suatu bencana bagi mereka yang menolak untuk dikritik.

Hampir semua aspek dikuasai, rakyat bak wayang yang bisa jadi bahan candaan. Bisa dipermainkan, menganggapnya benda mati. Tidak perlu terlalu jauh merambah ke semua aspek, cukup harta dan tahta. Mungkin akan menjadi novel seperti karya Tere Liye, tebal dan banyak. Perumpamaan yang sangat cocok untuk pelanggaran hak dan kewajiban di negeri ini.

Apakah gaji Tuan tidak cukup? Sampai mencuri harta orang miskin

Apakah kedudukan Tuan masih kurang? Padahal kerjanya hanya bergosip dan tertidur

Zaman sekarang, ilmu tidak bisa menutupi rasa malu. Mungkin hanya pakaian, itupun bagi sebagian orang yang punya akal. Kamu bisa hidup di belahan bumi bagian barat jika ingin mengenakan pakaian terbuka, tapi tidak untuk tinggal di Indonesia. Negara yang berlandaskan Pancasila, mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa semestinya masih ada kesadaran untuk berpakaian sesuai etika. Itu contoh sederhana, tapi masih saja ada yang melanggar. Tapi kita bukan bicara tentang adab berpakaian, itu hanya sebuah perumpamaan. Bahwa negeri ini masih punya acuan dalam berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila.

Politik dan Pancasila. Siapa yang lebih tinggi kedudukannya? Pancasila tentu menjadi jawaban bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka yang selalu dinasihati bahwa Pancasila harus hidup di dalam jiwa masyarakat Indonesia. Tapi kacamata orang dewasa tidak melihat hal yang serupa. Mereka sadar bahwasannya Pancasila hanya tulisan, hanya sebuah ikrar yang dibacakan saat upacara, sekedar 5 dasar yang dihafal, tanpa dimaknai apalagi diimplementasikan. Jadi apa benar Pancasila masih memegang tahta tertinggi di kehidupan berbangsa ini?

Politik dan pemerintahan setiap tahun berganti, meninggalkan beban bagi generasi. Mendatangkan penguasa-penguasa baru yang duduk dengan modal harta. Ilmu dan pengalaman menjadi bekal yang meragukan, karena orang dalam lebih diutamakan.

Kita bangsa yang enggan belajar. Semuanya ingin dilakukan secara instan, termasuk dalam mendapatkan harta dan jabatan. Oleh karena itu, negeri ini tidak pernah maju, bahkan sulit untuk berkembang. Bukan karena negara ini jatuh di tangan penjajah, tapi karena negeri ini dikendalikan oleh penguasa yang serakah.

Berbagai upaya terus dilakukan, sekalipun harus menghalalkan sesuatu yang haram. Rasa malu sudah tidak ada, Pancasila mulai luntur, dan perintah Tuhan pun tidak didengar.

Mereka hanya memperkaya diri mereka sendiri dengan merendahkan rakyat kecil, merenggut kesejahterannya sampai membiarkannya mati sengsara di tanahnya sendiri. Apa yang mereka dapat tidak sebanding dengan apa yang mereka beri pada rakyat. Mereka lupa, mereka tidak bisa hidup tanpa rakyat kecil. Mereka hanya boneka bernyawa yang manja, yang berlagak seperti seorang Raja. Tapi satu hal yang perlu diingat, raja tidak hidup sendiri ia selalu butuh dilayani, dan pelayan tidak datang dari kalangan petinggi. Pelayan bisa saja berhenti, jika ia menginginkan rajanya mati.

Tapi aku tidak menganggap mereka seperti raja. Mereka lebih tepat dicap sebagai pengemis yang lupa diri. Ingat saat mereka meminta suara untuk dipilih? Mereka memperlakukan kita bak Tuan. Kita menyetujuinya, dia bersumpah lalu menandatangani perjanjian. Ingat akan janji-janji manis mereka? Tentu tidak, terlalu banyak janji dan tidak ada yang ditepati. Kita sebagai rakyat kecil bisa apa. Demo  sudah dilakukan setiap tahunnya, bahkan mahasiswa memenuhi jalanan. Bukan sekedar panas-panasan, tapi menuntut janji yang memang sudah menjadi hak rakyat dan kewajiban pemerintah. Tapi gedung itu terlalu tertutup dan nyaman, sehingga banyak suara yang tidak terdengar juga banyak anggota yang ketiduran.

Lantas apa artinya sebuah sumpah dan hitam di atas putih. Semuanya hanya formalitas belaka. Memang dibuat sanksi yang tertuang dalam undang-undang. Tapi hakim dan hukum tidak berlaku adil. Memanjakan para pengkhianat di dalam kenyamanan sebuah sel tahanan, Lapas Sukamiskin misalnya. Tidak bisa membuat jera sehingga kasus penyelewengan kekuasaan meningkat setiap harinya. Jangan menyalahkan rakyat, rakyat hanya tahu kondisi luarnya saja, karena pemerintah tidak transparan dalam menangani penyimpangan dan pelanggaran.

            Sebagai generasi muda yang terdidik, yang hidup di tengah kisruhnya politik, masih bisa mendambakan kehidupan yang serasi. Karena kita percaya, kita akan menciptakan kesejahteraan itu. Sumpah dan perjanjian di atas kertas bukan permainan. Meski bukan menjadi bagian pemerintahan, kita sama sama punya ambisi. Ambisi untuk menyelamatkan negeri ini. Bukan sekedar hitam di atas putih, tapi aksi di atas janji.

Komentar

  1. Teks kritik yang telah dibuat sangat menarik yaitu mengenai sebuah puisi terkenal yang disukai banyak orang. Penulisan essai pun membahas topik yang sangat menarik dan sudah sesuai dengan struktur penulisan essai.

    BalasHapus
  2. Teks essai yang telah dibuat sangat menarik yaitu mengenai permasalahan politik yang terjadi di Indonesia dan struktur penulisannya pun sudah sesuai. Sedangkan, untuk teks kritiknya pun sangat menarik karena menggunakan judul puisi terkenal dan pengarangnya sudah dikenal oleh banyak orang.

    BalasHapus
  3. Teks kritik yang disajikan membahas makna puisi dengan sangat lengkap dan unsur unsur pembentukan puisinya pun dibahas dengan jelas. Dan teks esai nya juga sangat bagus.

    BalasHapus
  4. teks kritik dan esai yang di buat sudah bagus, sesuai dengan kaidah kebahasaan, selain itu struktur penulisannya pun sesuai, bahasa yang digunakan mudah di mengerti dan mudah di pahami, topik yang dibahas pun sangat menarik sekali

    BalasHapus
  5. Teks kritik yang dibuat menarik,isinya sudah mencakup karya yang di kritik dengan baik. Untuk teks Essainya pun sudah bagus,mengangkat topik yang menarik dengan pemaparan yang sangat baik.

    BalasHapus
  6. Teks kritik dan esai nya sudah bagus sesuai dengan kaidah kebahasaan nya 👍🏻

    BalasHapus
  7. Teks essai yang dibuat membahas topik yang sangat menarik dan mengedukasi bagi pembaca, selain itu gaya bahasa yang digunakan juga mudah untuk dimengerti dan disajikan dengan jelas sehingga pembaca tidak bosan.

    BalasHapus
  8. Teks kritik dan essai mengangkat topik yang menarik dengan karya sastra yang menarik juga. Kaidah kebahasaannya juga sudah sesuai dan dapat dipahami dengan baik👍🏻

    BalasHapus
  9. Teks Esai yang dibuat sangatlah menarik karena mengangkat topik yang sedang hangat dibicarakan. Teks kritik yang dibuat juga sudah menggunakan unsur dan kaidah kebahasaaan yang sesuai dengan aturan, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus
  10. Teks kritik dan esai yang dibuat sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan, gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami dan menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  11. Teks essai yang dibuat sangat bagus dan menarik karena membahas topik yang mengedukasi kalangan masyarakat, sedangkan teks kritik yang dibuat sangat sesuai dengan unsur-unsur kaidah kebahasaan.

    BalasHapus
  12. Teks esai dan kritik yang dibuat bagus dan menarik, sudah sesuai kaidah kebahasaan dan struktur yang benar. Penulisannya juga rapi dan mudah dimengerti

    BalasHapus
  13. Teks kritik dan esai telah disusun dengan paragraf yang rapi dan bahasa yang jelas sehingga mudah dipahami. Topik yang diambil sangat menarik dan penulisan sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan pada umumnya

    BalasHapus
  14. Teks kritik dan teks esai tersebut sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan. Bahasanya jelas dan mudah dimengerti

    BalasHapus
  15. Struktur serta kaidah kebahasaannya Essai dan Kritik nya sudah baik dan benar

    BalasHapus

Posting Komentar